Muara adalah sebuah perjumpaan.

Muara Bangsa ingin menjadi sebuah wadah tempat bertemunya bibit-bibit baru lingkaran kehidupan dengan beragam latar belakang. Mari berjumpa di muara. Mari berproses bersama di Muara Bangsa.

SEKOLAH

Taman Kanak-kanak

Taman Kanak-kanak Muara Bangsa terdiri dari kelompok A (5-6 tahun) dan kelompok B (6-7 tahun). Pada tingkat ini, karakter dan kepribadian anak sedang dibentuk secara total. Anak sudah dilibatkan penuh dalam interaksi sosial, diarahkan untuk lebih peduli dan memahami, didorong untuk berinisiatif dan aktif.

Sekolah Lukis

Sekolah lukis Muara Bangsa dirancang untuk membantu anak-anak menemukan potensi mereka. Potensi ini kemudian diasah bersama-sama agar mereka bisa menghasilkan karya yang merupakan ekspresi otentik dari diri mereka.

Sekolah Menulis

Muara Writing School membuka program penulisan kreatif, penulisan jurnalistik, dan english writing dengan mentor-mentor profesional. Tersedia juga program khusus untuk anak dan training for trainee.

Tujuan Muara Bangsa adalah menghasilkan karakter-karakter yang memahami dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan. Kami percaya, ketika karakter tersebut sudah dimiliki, seseorang akan mampu memanfaatkan seluruh potensi dalam dirinya.

Beasiswa Yayasan Muara

Yayasan Muara Bangsa, melalui Komunitas Muara Bangsa, sejak awal berdiri memberikan kesempatan pada mereka yang tidak mampu untuk turut menikmati pendidikan berkualitas. Beasiswa diprioritaskan untuk anak-anak yatim atau anak-anak dari golongan ekonomi bawah.

Setiap tahun beasiswa diberiikan untuk setiap program. Mulai dari playgroup, hingga taman kanak-kanak. Dengan dibukanya program-program baru, itu artinya beasiswa juga dibuka untuk program-program tersebut, sesuai dengan minat dan kebutuhan.

Tidak hanya untuk anak, kami juga menyediakan beasiswa bagi remaja atau orang dewasa yang memiliki potensi.

SASTRA

Yayasan Muara konsisten menghidupkan tradisi literasi yang membumi.

Sastra Masuk Kampung

Januari 2016

Gagasan Sastra masuk kampung karena kesadaran kita, kok yang tahu sastra itu hanya orang-orang yang nongkrong di pusat kebudayaan paling hit di Jakarta, hanya intelektual, hanya orang terpelajar yang jauh dari realita. Padahal seharusnya kita membawa sastra itu semakin dikenal pada banyak orang bukan hanya kelompok yang itu-itu saja.

Asean Literary Festival 2016

Mei 2016

Building on the huge success ofthe first ASEAN Literary Festival in 2014 and 2015, adopting the theme of democracy and human rights under the banner of "Anthems for the Common People", and "Questions of Conscience", the 3rd ASEAN Literary Festival in 2016 will take on how ASEAN's literary works and its authors respond and adapt to the current global system with theme "The Story of Now".

Asean Literary Festival 2017

Agustus 2017

This year, ASEAN celebrates its 50th anniversary. A milestone for us, people in Southeast Asia. ASEAN Literary Festival 2017 will be held in conjunction with the celebration. That's why we decide to hold the festival on the first week of August 2017. A month when we celebrate our 50 years of togetherness. Here it is, the official dates, theme and poster of The 4th ASEAN Literary Festival. "Beyond Imagination".

"Di muara semuanya berproses. Untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke lautan, lalu menjadi bibit-bibit baru lingkaran kehidupan."
Abdul Khalik, Founder

"Misi kami adalah menjadi pusat belajar dan bermain yang menghasilkan manusia-manusia cerdas dan kreatif yang senantiasa memegang nilai-nilai kemanusiaan. Di sini, kita berproses bersama."
Okky Madasari, Founder

"Selain interaksi, kami menggunakan cerita dan dongeng (sastra) dan seni sebagai sarana utama. Kami percaya, sastra dan seni bisa memberikan pengaruh yang besar pada karakter dan pikiran seorang anak. "
Jamil, Guru TK Muara Bangsa

"Lewat sastra dan seni kami ingin menyentuh jiwa-jiwa mereka, bercakap dalam bahasa mereka."
Siti, Guru TK Muara Bangsa

FILM

Istirahatlah Kata-kata

9 Agustus 2016

Wiji Thukul adalah penyair yang kritis terhadap ketidakadilan penguasa. Rezim Soeharto telah 30-an tahun memegang pemerintahan di Indonesia dan mematikan demokrasi. Puisi-puisi Wiji lugas dan selalu diteriakkan dalam demonstrasi-demonstrasi melawan rezim.